Mengungkap Fakta Dibalik Berita

Nyepi Tanpa Internet Bukan Sikap Intoleran

0 112

JAKARTA, rakyatrepublika.com-
Wacana PHDI Bali meminta kepada Kementrian Informasi dan Komunikasi supaya dalam pelaksanaan Nyepi layanan internet untuk daerah Bali dihentikan selama pelaksanaan Catur Brata penyepian berlangsung telah membuka perdebatan, setidaknya di media sosial.

Menurut mantan Sekretaris Jenderal DPN Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah), I Ketut Guna Artha bahwa apa yang diusulkan PHDI Bali ini masih dalam katagori wajar sebagai sebuah diskursus.

“Saya menilai ini sebuah tindakan progresif ditengah atmosfer perang melawan hoax dan ujaran kebencian. Kita kan lihat dalam setahun terakhir ini propaganda agama sering dijadikan alat menyulut kebencian yang cenderung menjadi konflik horisontal apalagi ditengah situasi bangsa menghadapi pilkada, saya pikir usulan PHDI ini menjadi menarik untuk dikaji,” ujarnya.

I Ketut Guna Artha yang sangat konsen dengan isu-isu kebangsaan yang biasa hidup dalam lingkungan plural menyadari betul bahwa ancaman masa depan Indonesia adalah nasionalisme oleh sebab kemajuan teknologi informasi sebagai proxy war. Maka dari itulah kemudian tahun 2011 membentuk ormas Barisan Penegak Trisakti Bela Bangsa (Banteng Indonesia).

“Perang siber itu nyata karena memang ada kolompok-kelompok masyarakat yang tidak menginginkan kemajuan bangsa dengan menciptakan gangguan stabilitas keamanan melalui konflik SARA. Polisi telah mengidikasikan bahwa kelompok-kelompok ini terorganisir, melek IT, terdidik dan terlatih memproduksi materi konflik,” katanya.

Oleh karena itu, ujar I Ketut Guna Artha lagi, untuk ketenangan masyarakat Bali yang melaksanakan brata penyepian, saya memahami aspirasi tokoh-tokoh agama di Bali meminta Nyepi tanpa internet dengan alasan preventif meminimalisasi potensi konflik.” Perlakuan listrik dan internet itu sangat berbeda. Karena internet memiliki kemampuan menyebarkan informasi itu super cepat maka berita yang salah bisa dengan cepat dikonsumsi masyarakat dan menciptakan keresahan,” imbuhnya.

Ditambahkan I Ketut Guna Artha, Nyepi telah berlangsung ribuan tahun, sehingga sudah barang tentu tantangannya berbeda. Pelaksanaan Catur Brata Penyepian tahun ini dimulai tanggal 17 Maret 2018 pukul 06.00 waktu setempat hingga 18 Maret 2018 pukul 06.00.

“Ketika orang asing sengaja berlibur ke Bali menghargai tradisi masyarakat Hindu di Bali dengan diberlakukannya penutupan bandara dan pelabuhan selama 24 jam, mengapa kita tidak menghargai kearifan lokal itu untuk pelaksanaan brata penyepian yang lebih khusuk? Bukankah orang Baduy dalam menjaga tradisi kearifan lokalnya di wilayah Baduy Dalam tanpa HP atau Internet dan listrik setiap hari? dan yang diusulkan tokoh agama di Bali hanya diberlakukan untuk di Bali dan sehari saja, bukan? Menurut saya Nyepi tanpa internet bukan sikap intoleran. Janganlah kita diperbudak internet untuk bermedia sosial, bursa efek saja ada liburnya kok,” pungkasnya.

Reporter : Luther
Editor      : Mella

Leave A Reply

Your email address will not be published.