Sanksi Tegas Menanti Mahasiswa S2 UPGRI Palembang yang Terbukti Plagiat

Sanksi Tegas Menanti Mahasiswa S2 UPGRI Palembang yang Terbukti Plagiat

 

PALEMBANG, RakyatRepublika – Universitas PGRI Palembang (UPGRIP) menunjukkan sikap tegas dalam menjaga marwah akademik pendidikan tinggi. Di tengah menguatnya isu plagiarisme di dunia kampus, UPGRIP menutup rapat celah kecurangan dengan memberlakukan sanksi keras bagi mahasiswa pascasarjana yang terbukti meniru atau menyalin karya ilmiah orang lain. Taruhannya tidak main-main,gagal lulus hingga pencabutan keabsahan ijazah, meskipun seluruh perkuliahan telah diselesaikan.

Bacaan Lainnya

Kebijakan tersebut berlaku bagi mahasiswa Program Magister (S2), khususnya pada Program Studi Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Matematika. Universitas menegaskan bahwa tesis bukan sekadar syarat administratif kelulusan, melainkan puncak pertanggungjawaban akademik mahasiswa atas proses pembelajaran, penelitian, dan pengembangan keilmuan yang telah ditempuh.

Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Badan Pengurus (BP) PGRI Universitas PGRI Palembang, Dr. Hj. Meilia Rosani, S.H., M.H., melalui Wakil Ketua BPH PB PGRI UPGRIP, Drs. H. Lukman Haris, M.Si., menegaskan bahwa setiap tesis yang diajukan mahasiswa wajib bersifat orisinal, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Tidak ada toleransi terhadap plagiarisme. Tesis harus lahir dari pemikiran, penelitian, dan kerja akademik mahasiswa sendiri, bukan hasil meniru, menyalin, atau memodifikasi karya orang lain,” katanya, Sabtu (10/1/2026)

BACA JUGA  Dihadiri Pejabat Penting di Sumsel, Acara Imlek di Rajawali Grand Ballroom Berlangsung Meriah

Menurut dia, plagiarisme tidak hanya merusak kredibilitas individu mahasiswa, tetapi juga mencederai integritas institusi pendidikan tinggi. Karena itu, UPGRIP memilih bersikap tegas sejak awal agar mahasiswa memahami bahwa kejujuran akademik adalah nilai yang tidak bisa ditawar.

Ia menambahkan, mahasiswa yang terbukti melanggar ketentuan tersebut akan menanggung konsekuensi serius. Selain kelulusan yang dapat dibatalkan, ijazah yang telah diterbitkan pun berpotensi dinyatakan tidak sah, sehingga gelar magister yang diperoleh bisa gugur.

“Ini bukan ancaman, tetapi komitmen universitas dalam menjaga mutu lulusan dan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan,” ujarnya.

Sebagai upaya preventif sambung Lukman,Universitas PGRI Palembang menerapkan kebijakan yang relatif ketat dibandingkan sebagian perguruan tinggi lain, yakni mewajibkan mahasiswa S2 mengikuti pelatihan penulisan artikel ilmiah dan tesis. Kebijakan ini dirancang untuk membekali mahasiswa tidak hanya dari sisi teknis penulisan, tetapi juga pemahaman mendalam tentang etika akademik.

“Pelatihan ini menjadi ruang pembelajaran agar mahasiswa memahami bagaimana menyusun artikel ilmiah yang baik dan benar, memahami cara mengutip, mengolah data, serta menghindari plagiarisme secara sadar,” katanya

Lukman menambahkan,pelatihan pembuatan artikel dan tesis tersebut menjadi bagian integral dari rangkaian perkuliahan semester akhir. Berbeda dengan pola sebelumnya, mahasiswa kini diarahkan untuk terlebih dahulu menyusun artikel ilmiah yang kemudian dikembangkan menjadi tesis. Dengan demikian, proses penulisan tesis tidak lagi dilakukan secara mendadak, melainkan melalui tahapan yang terstruktur dan terencana.

BACA JUGA  Kerjasama Pemkot Palembang dan Bappenas, Data Regsosek untuk Bantuan Tepat Sasaran

“Artikel ilmiah itu menjadi fondasi awal tesis. Dengan pola ini, mahasiswa tidak memulai dari nol, tetapi mengembangkan karya yang sudah dibangun secara akademik dan metodologis,” ujarnya.

Dia menilai,pendekatan tersebut diharapkan mampu meringankan beban mahasiswa sekaligus meningkatkan kualitas karya ilmiah yang dihasilkan. Selain itu, pelatihan ini juga menjadi sarana pembinaan agar mahasiswa terbiasa dengan standar penulisan ilmiah yang berlaku di dunia akademik dan publikasi ilmiah.

“Pelatihan tersebut diikuti oleh 70 mahasiswa, yang terdiri atas 30 mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika dan 40 mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya kesadaran mahasiswa akan pentingnya pemahaman teknik penulisan ilmiah dan etika akademik dalam menyelesaikan studi magister.

Pihak universitas berharap, kebijakan ini tidak hanya menghasilkan tesis yang berkualitas, tetapi juga melahirkan lulusan magister yang berintegritas, kompeten, dan siap berkontribusi secara akademik maupun profesional di tengah masyarakat.

“Budaya akademik yang jujur dan bertanggung jawab harus dibangun sejak di bangku kuliah. Inilah yang ingin kami tanamkan kepada mahasiswa pascasarjana Universitas PGRI Palembang,” pungkasnya.(Ken)

 

Pos terkait