Kemerdekaan Pers Dicederai di Palembang: Dua Jurnalis Terluka Parah Saat Mengabarkan Realita Lapangan

 

PALEMBANG, Rakyat Republika –  Suasana di depan Markas Polda Sumsel awalnya berjalan seperti biasa. Di satu sudut bawah flyover Simpang Polda, Aliansi Mahasiswa Cipayung Plus Palembang mulai berkumpul untuk menggelar aksi demonstrasi, Selasa (13/10/2026).

Bacaan Lainnya

Mereka datang membawa tuntutan , mendesak penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta bencana kabut asap yang tengah mengepung wilayah Sumatra Selatan.

Namun, di waktu dan lokasi yang hampir bersamaan, terdapat kelompok massa lain dari organisasi kemasyarakatan (ormas) dan komunitas ojek daring berpakaian hitam yang sedang melangsungkan aksi solidaritas membagikan masker kepada pengguna jalan.

Dua kutub massa dengan agenda berbeda ini bertemu di satu titik dinamis. Entah apa pemantiknya, gesekan kecil di lapangan dengan cepat membesar. Suasana damai dalam sekejap berubah menjadi tegang, riuh, dan akhirnya pecah menjadi bentrokan fisik yang anarkis.

Melihat kericuhan yang mulai pecah, para pemburu berita yang berjaga di lokasi langsung bergerak cepat. Rachmad Kurniawan, jurnalis dari Tribun Sumsel / Sriwijaya Post, bergegas mengangkat ponselnya untuk melakukan siaran langsung (live streaming) melalui media sosial demi mengabarkan situasi riil kepada publik.

Langkah jurnalistik ini ternyata memicu kemarahan kelompok massa berbaju hitam. Tiba-tiba saja, Rachmad dikepung dan diintimidasi. Seseorang berteriak menuduhnya hendak menusuk (nujah), memicu kepanikan massa. Mereka mendesak dengan nada mengancam “Hapus, hapus video itu!”

Rachmad menolak demi menjaga aset liputannya. Detik berikutnya, situasi menjadi tak terkendali. Ia diserang secara membabi buta, dipukul, dan ditendang oleh lebih dari lima orang.

Melihat rekannya dikeroyok hingga terkapar di jalanan, Mulyadi, jurnalis dari PAL TV, dengan berani merangsek masuk ke kerumunan untuk melerai dan menyelamatkan Rachmad. Mulyadi berulang kali berteriak lantang, “Kami wartawan! Kami wartawan!”

Nahas, identitas profesi dan kartu pers yang mereka miliki tak lagi dihiraukan. Kelompok massa yang kalap justru berbalik menyerang Mulyadi. Ia ikut dipukuli dan dihujani hantaman fisik hingga mengalami luka robek di bagian wajah dan bibir. Di tengah kepasrahan, mereka sempat mencari perlindungan dari aparat kepolisian yang berjaga, namun gerak cepat massa membuat mereka telanjur babak belur sebelum berhasil dievakuasi.

Bentrokan singkat namun intens itu menyisakan pilu. Korban berjatuhan bukan hanya dari kalangan pers; tercatat tiga mahasiswa dan satu anggota Polri juga mengalami luka-luka akibat kericuhan masal tersebut.

Rachmad Kurniawan dan Mulyadi segera dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang karena menderita luka parah di bagian wajah, kepala, dan kaki.

Di atas ranjang perawatan VVIP rumah sakit, dengan tubuh lebam dan perban, mereka langsung didatangi oleh petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumsel yang melakukan sistem “jemput bola” untuk mempermudah pembuatan laporan polisi.

Kasus ini memicu gelombang kecaman keras dari berbagai organisasi pers di Sumatra Selatan yang menuntut kemerdekaan pers dan keselamatan jurnalis di lapangan. Merespons peristiwa berdarah ini, Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana berjanji akan mengusut tuntas dan melakukan investigasi menyeluruh untuk menyeret para pelaku pengeroyokan ke jalur hukum.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana mengatakan akan mengambil sikap tegas terkait insiden pengeroyokan brutal terhadap dua jurnalis, Rachmad Kurniawan (Tribun Sumsel) dan Mulyadi (PAL TV), saat meliput demo karhutla yang ricuh di depan gerbang markasnya sendiri.

Respons resmi dan koordinasi yang dilakukan oleh pucuk pimpinan Polda Sumsel beserta jajaran Hubungan Masyarakat (Humas) meliputi beberapa poin krusial diantaranya Kapolda Sumsel Turun Tangan dan Perintahkan Investigasi Total.

Setelah menerima laporan langsung dari perwakilan jurnalis melalui pesan singkat sesaat setelah insiden berdarah terjadi, Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana langsung memberikan atensi penuh.

Ia menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas dalang dan pelaku di balik aksi kekerasan tersebut.
“Nanti kita akan investigasi ya, untuk ketahui permasalahan sebenarnya,” tegas Irjen Pol Rony Samtana.

Selain penegakan hukum, Kapolda juga langsung menginstruksikan jajarannya untuk memprioritaskan keselamatan dan memastikan penanganan medis terbaik bagi kedua korban yang tengah dirawat intensif di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang.

Merespons arahan Kapolda, jajaran Bidang Humas (Bid Humas) Polda Sumsel bersama petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) langsung bergerak taktis ke rumah sakit.

Mengingat kondisi fisik Rachmad dan Mulyadi yang masih lemah dan mengalami luka memar serius di wajah, pihak kepolisian menerapkan sistem jemput bola.

Petugas langsung mendatangi ruang perawatan VVIP untuk mengambil keterangan awal dan memfasilitasi pembuatan laporan polisi resmi agar kasus penganiayaan ini bisa segera diproses secara hukum. (Mella)

 

 

Pos terkait