Pak Yayat dan Cahaya Huruf Hijaiyah di Desa Hulu Sungai

Penulis : MellaWati

Setiap sore, saat matahari sudah mulai condong ke balik bukit, Pak Yayat berjalan pelan menyusuri jalan setapak menuju sebuah desa yang berada di hulu sungai
sambil menggenggam mushaf Al-Qur’an yang sampulnya mulai memudar. langkahnya ringan, meski usia telah lebih dari setengah abad.

Bacaan Lainnya

Pak Yayat mengajar anak – anak yang tinggal di daerah pedalaman Kabupaten Garut, telah lebih dari 20 tahun lalu mengabdikan dirinya dan hal tersebut ia lakukan tanpa bayaran bayaran atau pamrih sedikitpun. Hanya menuruti panggilan hatinya, agar anak-anak di desa tersebut mengenal huruf hijaiyah.

BACA JUGA  Viral!! Rabbi Yahudi Hendak Susupi Kurikulum Pendidikan Indonesia, Ubah Narasi Negatif tentang Israel

Tempatnya mengajar hanya berdinding bambu serta beratapkan jerami, setiap sore suara anak-anak yang sedang melafalkan ayat-ayat suci memenuhi tempat sederhana itu, dan dengan penuh kesabaran Pak Yayat membimbing mereka.

“Yang penting anak- anak bisa baca Al-Qur’an, itu salah satu bekal hidup mereka,” ujar pak Yayat pelan.

Murid yang belajar mengaji datang dengan pakaian seadanya, sarung, peci serta kerudung yang terlihat mulai lusuh. Setelah seharian membantu orang tua di ladang, mereka membersihkan diri dan berwudhu, lalu berkumpul ditempat tersebut menunggu kedatangan pak Yayat.

Diantara mereka ada yang baru pertama kali memegang iqra, ada pula yang masih terbata-bata saat melafalkan ayat Al-Quran, semuanya dibimbing pak Yayat tanpa pernah membeda-bedakan murid satu dan lainnya. Karena baginya, semua berhak untuk belajar.

Pak Yayat sehari – hari bekerja sebagai buruh tani, dari situlah ia memenuhi kebutuhan hidupnya. Selepas magrib hingga malam tiba ia mengajar anak- anak mengaji, meski tubuhnya terkadang lelah namun semangatnya tak pernah pudar.

BACA JUGA  Tiga Pelajar SMK Wakili Sumsel di LKS Tingkat Nasional

“Kalau bukan kita yang ngajarin mereka, lalu siapa lagi?” ujar pak Yayat dengan suara lirih.

Seiring dengan berjalannya waktu, beberapa muridnya telah tumbuh menjadi dewasa. Diantara mereka kini ada yang menjadi guru sekolah dasar, ada yang berwirausaha dengan membuka toko sembako di kampung sebelah serta ada pula yang meneruskan mengajar mengaji di desa lainnya.

Hingga kini, pak Yayat tetap setia di tempat itu, duduk bersila dan membuka mushaf melafalkan ayat suci Al-Quran.

Di sebuah tempat yang jauh dari sorotan, pak Yayat telah menyalakan cahaya, cahaya dari huruf-huruf suci yang membentuk pondasi generasi.

Pos terkait