JAMBI, RakyatRepublika – Bercita-cita menjadi Polwan, seorang remaja di Jambi malah menjadi korban pemerkosaan dua oknum polisi.
Kini remaja berinisial CA itu depresi. Ia tak mau lagi menjadi Polwan.
Ketika ditemui di rumahnya, Jumat (30/1/2026) pagi, CA menangis. Ia men ceritakan tragedi yang membuat luka seumur hidup itu.
Sebenarnya, C berencana mengikuti tes masuk kepolisian tahun ini.
Namun, peristiwa yang dialami membuatnya tidak punya keberanian untuk mendaftar ke institusi penegakan hukum di Indonesia ini.
Jangankan untuk mengikuti tes kepolisian, saat ini dia masih mengurung diri di dalam kamarnya.
Ia mengatakan kini sangat benci dengan kepolisian.
Menurutnya, bagaimana bisa seseorang yang seharusnya menolongnya saat ternyata malah ikut melakukan pemerkosaan.
“Saya dipegang dan diperkosa, bukannya ditolong, malah pelaku ikut memperkosa,” tuturnya.
Remaja C diperkosa empat orang pada November 2025 lalu.
Dua pelaku oknum polisi dan dua orang lagi akan mengikuti tes polisi tahun 2026.
Satu di antara warga sipil tersebut merupakan anak dari pendeta terkemuka di Jambi.
Akibat peristiwa itu, korban trauma dan sempat ingin mengakhiri hidup.
Namun, niat CA dapat dicegah oleh pihak keluarga yang mengetahui kejadian tersebut.
Saat ini, keluarga korban sedang menempuh jalur hukum untuk mendapatkan keadilan.
Identitas 2 Okum Polisi
Ibu MS mengatakan pelaku berjumlah empat orang, dua di antaranya oknum polisi.
Dua polisi yang disebutkan Ibu MS, bertugas di Polres Tanjung Jabung Timur dan Ditreskrimum Polda Jambi.
Para pelaku melakukan perbuatan biadab itu di sebuah kamar kos pada Jumat (14/11/2025).
“Pelaku (yang menyetubuhi) ada empat orang, dua orang anggota polisi dan dua lagi sipil namanya I dan K,” kata MS, saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (29/1/2026).
Penuturan MS, putrinya disetubuhi di dua lokasi, di wilayah Kebun Kopi Kotabaru dan Arizona, Kota Jambi.
Peristiwa bermula ketika korban (remaja C, putri Ibu MS) sedang berada di rumah temannya di Pinang Merah, Kota Jambi, dan hendak pulang ke rumah.
Pelaku inisial I menghubungi korban, mengatakan akan menjemput dan mengantarkan pulang ke rumah.
“Anak saya bilang sudah mau pesan ojek online, tetapi dilarang oleh si I, bilangnya dia aja yang ngantar, dan akhirnya anak saya dijemput,” kata MS.
Pelaku I kemudian menjemput korban di daerah Pinang Merah.
Saat dalam perjalanan, tepatnya di kawasan Simpang Rimbo, Kota Jambi, pelaku I memutar arah mobilnya.
Dia membawa korban ke wilayah Kebun Kopi, Kota Jambi.
Setibanya di lokasi pertama, korban langsung disetubuhi tiga orang, yakni inisial I, K, dan S.
Setelah melakukan tindakan tersebut, S dibantu rekannya memasukkan korban ke dalam mobil.
Mereka membawa korban ke sebuah rumah indekos di kawasan Arizona.
Di sana, mereka bertemu dengan oknum polisi berinisial N.
“Anak saya dioper (pindahkan) lagi ke kos-kosan, bertemu si N dan anak saya disetubuhi lagi,” katanya.
Menurut MS, jumlah pelaku yang menyetubuhi anaknya berjumlah empat orang.
Tetapi, di lokasi pertama ada sekitar lima anggota polisi yang ikut serta membantu mengangkat korban dari rumah masuk ke dalam mobil.
“Tapi, kata anak saya, ada anggota polisi lain ikut bantu angkat anak saya, dan yang melakukan tindakan itu (menyetubuhi) dua polisi dan dua sipil,” tambah MS.
MS memastikan dua pelaku merupakan anggota polisi.
Katanya, dia telah melihat secara langsung empat pelaku yang sudah ditangkap (termasuk dua anggota polisi).
“Empat sudah ditangkap dan saya sudah lihat ke Polda Jambi,” sebut MS.
Minta Tolong Kapolda dan Kapolri
Ketua DPRD Kota Jambi, Kemas Faried Alfarelly, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Jambi untuk memberikan pendampingan psikologis kepada korban.
“Untuk melakukan kordinasi pendalaman terkait mental, jadi nanti ada psikolog yang datang ke rumah korban,” ujarnya, seperti yang dilansir Tribunjambi.com.
DPRD Kota Jambi mendorong agar kasus tersebut dikawal secara serius.
Kemas bilang menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum agar ditangani secara profesional.
“Kepada Bapak Kapolda, Kapolri, karena ini melibatkan diduganya ada anggota yang terlibat, keterangan dari ibu (M) dan melibatkan sipil juga, kami harap kasus ini dikawal diselesaikan dengan baik,” ungkapnya.
Selain itu, Kemas juga menyinggung sejumlah peristiwa dalam beberapa waktu terakhir turut mencoreng citra daerah.
“Dan ini menjadi catatan bagi kita, khususnya di Jambi, agak mencoreng ya, karena nama Kota Jambi dan Provinsi Jambi sempat viral,” ucapnya. (*)







