Festival Marogan 2026: Merajut Kasih Sayang Lintas Generasi dan Inovasi Dakwah di Pondok Pesantren Kiai Marogan

Festival Marogan 2026: Merajut Kasih Sayang Lintas Generasi dan Inovasi Dakwah di Pondok Pesantren Kiai Marogan

PALEMBANG, RakyatRepublika – Semangat menghidupkan kembali warisan perjuangan ulama besar Palembang, Kiai Marogan, bergemuruh dalam gelaran Festival Marogan 2026. Berlangsung meriah di Pesantren Tahfidz Kiai Marogan, Talang Betutu, acara ini sekaligus menjadi perayaan Milad ke-16 ponpes tersebut.

Mengusung tema “Menghidupkan Kembali Warisan Marogan untuk Generasi Masa Depan”, festival ini menjelma menjadi magnet bagi masyarakat. Sejak pagi, ribuan warga memadati area pesantren untuk mengikuti ragam kegiatan edukatif, sosial, dan religi. Mulai dari lantunan merdu lomba hadroh dan rebana ibu-ibu, keceriaan seratus anak dalam lomba mewarnai, hingga kegiatan sosial seperti donor darah dan cek kesehatan gratis.

Bacaan Lainnya

Suasana semakin semarak dengan antusiasme warga yang mengikuti kajian Magnet Rezeki hingga layanan ruqyah syar’iyyah.

Dukungan Penuh dari Kesultanan Palembang Darussalam

Apresiasi mendalam terhadap nilai historis dan religius festival ini datang langsung dari Sultan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin. Kehadiran sang Sultan menegaskan pentingnya kolaborasi antara ulama, umara (pemerintah), dan pemangku adat dalam menjaga identitas Bumi Sriwijaya.

Dalam penyataannya, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin mengungkapkan kebanggaannya atas konsistensi pesantren dalam merawat warisan sang ulama legendaris.

“Kiai Marogan adalah pilar sejarah keislaman dan kebudayaan Palembang yang tidak boleh dilupakan. Melalui festival ini, kita tidak hanya bernostalgia dengan sejarah, melainkan mentransfer nilai luhur, budi pekerti, dan semangat perjuangan beliau kepada generasi milenial agar tidak hanyut oleh arus zaman,” tegas Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.

BACA JUGA  Menu Makanan Sahur Puasa Ramadhan Agar Kenyang Tahan Lama

Inovasi Baru: Pesantren Lansia dan Aksi Subsidi Silang

Pendiri sekaligus Pengasuh Ponpes Kiai Marogan, Ustadz Yayan, menegaskan bahwa milad ke-16 ini adalah momentum pesantren untuk memperluas kebermanfaatannya bagi semua kalangan, dari usia dini hingga lansia.

Sebagai gebrakan baru, Pesantren Kiai Marogan resmi meluncurkan Program Pesantren Lansia yang mulai beroperasi pada 1 Agustus 2026. Program ini dirancang bukan sekadar untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga sebagai sarana healing atau relaksasi.

Didampingi langsung oleh dokter dan psikolog, para lansia bisa menikmati suasana alami pesantren di tepi sungai, berkebun, hingga bersantai di pondok-pondok. Menariknya, program ini mengusung misi sosial yang luar biasa. Biaya yang dibayarkan oleh para lansia akan dijadikan subsidi silang 100% untuk membiayai pendidikan anak-anak yatim secara gratis di pesantren.

“Kami ingin tercipta keluarga besar pesantren, di mana para lansia dan anak-anak yatim dapat saling menguatkan dan berbagi kasih sayang,” ungkap Ustadz Yayan.

Dakwah Kreatif dan Rencana Studio Film Islami

Tidak berhenti pada layanan sosial dan pendidikan reguler, Pesantren Kiai Marogan juga bersiap melangkah ke era digital. Saat ini, pihak pesantren tengah merancang pembangunan studio film Islami dan mini theater. Fasilitas berbasis teknologi ini diproyeksikan sebagai media dakwah kreatif yang lebih segar untuk menjangkau kalangan generasi muda.

Dengan didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan serta restu dari Kesultanan Palembang, Festival Marogan 2026 sukses membuktikan bahwa pesantren kini mampu bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, ruang healing keluarga, dan motor penggerak dakwah kreatif.

BACA JUGA  Nabi Ghana yang Viral Memproklamirkan Kiamat pada 25 Desember, Kini Mengatakan Kiamat Telah Ditunda

Dalam sebuah kata sambutan terbaru, Ustadz Fadlan memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat juang yang diwariskan oleh ulama besar, Kiai Marogan. Namun, di balik apresiasi tersebut, beliau juga menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai kondisi riil perkembangan umat Islam di Indonesia saat ini.

Ustadz Fadlan mengungkapkan data yang cukup memprihatinkan terkait potret religiusitas masyarakat. Menurutnya, saat ini sekitar 65 persen umat Islam di Indonesia masih mengalami buta aksara Al-Qur’an. Tidak hanya itu, tingkat partisipasi ibadah di tempat ibadah juga masih sangat rendah, di mana hanya sekitar 2 persen umat Muslim yang aktif melaksanakan salat berjamaah di masjid.

“Kondisi ini tentu cukup miris jika kita melihat kembali besarnya semangat juang yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu kita seperti Kiai Marogan,” ujar Ustadz Fadlan.

Lewat momentum peringatan ini, Ustadz Fadlan menaruh harapan besar bagi masa depan dakwah di tanah air. Beliau mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meneruskan estafet perjuangan tersebut dengan target yang nyata.

Ke depan, beliau berharap ada gerakan masif yang terstruktur sehingga tidak ada lagi umat Islam yang buta huruf Al-Qur’an. Selain itu, peningkatan kehadiran jemaah pada salat Subuh di masjid-masjid juga diharapkan dapat menjadi tolok ukur kebangkitan spiritual umat secara nasional. (Mella)

 

Pos terkait