Palembang, RakyatRepublika – Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menjadi tuan rumah workshop lanjutan AI for Journalism, sebuah program penguatan kompetensi digital bagi jurnalis, akademisi, dan praktisi komunikasi dalam menghadapi transformasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Alunjiva Indonesia dan Kedutaan Besar Inggris sebagai bentuk sinergi internasional dalam mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang jurnalistik dan komunikasi digital.
Workshop yang berlangsung di lingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang ini menjadi kelanjutan dari program inkubasi nasional yang sebelumnya dilaksanakan secara daring.
Program tersebut berhasil menjaring sekitar 700 jurnalis, akademisi, dan praktisi komunikasi dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga kawasan timur Nusantara.
Dari ratusan peserta tersebut, sejumlah perwakilan terpilih melalui proses kurasi untuk mengikuti pelatihan lanjutan secara tatap muka. Tahapan ini dirancang untuk memberikan pendalaman materi sekaligus pengalaman praktis dalam memanfaatkan teknologi AI bagi kebutuhan kerja jurnalistik.
AI Bukan Pengganti Jurnalis
Dalam sambutan pembukaan, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang menekankan pentingnya penggunaan AI secara bijak dan bertanggung jawab di lingkungan kerja jurnalistik.
Menurutnya, teknologi AI seharusnya ditempatkan sebagai asisten digital yang membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan, bukan sebagai pengganti peran jurnalis.
Ia mengingatkan agar jurnalis tidak menggunakan hasil keluaran AI secara mentah tanpa melalui proses pemeriksaan, penyuntingan, dan verifikasi.
“Jangan sampai hasil dari AI itu langsung di-copy-paste oleh pengguna dan langsung diserahkan begitu saja,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hasil tulisan AI memiliki karakteristik tertentu yang dapat dikenali melalui berbagai perangkat pengujian profesional. Karena itu, kemampuan mengolah, memverifikasi, dan mengembangkan informasi tetap menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki setiap jurnalis.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga disampaikan Wakil Dekan II Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang, Candra Darmawan. Ia mengapresiasi kolaborasi internasional antara Alunjiva dan Kedutaan Inggris yang memberikan kesempatan bagi sivitas akademika untuk memperluas wawasan serta meningkatkan kompetensi digital.
Menurut Candra, kegiatan seperti ini memiliki nilai strategis karena membuka akses pengetahuan global sekaligus memperkuat daya saing generasi muda, khususnya mahasiswa dan insan komunikasi.
Ia berharap program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan semata, tetapi menjadi investasi pengetahuan yang memberikan dampak jangka panjang bagi pengembangan kapasitas akademik dan profesional peserta.
AI Membantu Efisiensi, Keamanan Data Tetap Prioritas
Dalam kesempatan yang sama, Tasmalinda, salah satu perwakilan regional yang terpilih mengikuti workshop lanjutan, turut berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan teknologi AI dalam aktivitas profesional.
Ia berpandangan bahwa AI bukanlah teknologi yang bertujuan mengambil alih pekerjaan manusia. Sebaliknya, teknologi ini dapat menjadi alat bantu untuk mempercepat berbagai pekerjaan yang membutuhkan pengolahan dan analisis data.
Tasmalinda mencontohkan penggunaan AI untuk memilah data dalam jumlah besar, menyusun perbandingan informasi, hingga membantu mengidentifikasi kekeliruan dalam pencatatan laporan keuangan perusahaan.
Pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam apabila dilakukan secara manual dapat diselesaikan dengan lebih efisien melalui bantuan teknologi tersebut.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan AI juga harus disertai kesadaran terhadap keamanan siber dan perlindungan data.
Peserta diminta untuk tidak sembarangan mengunggah dokumen, informasi, maupun materi yang bersifat rahasia ke dalam platform AI, terutama data yang tidak ditujukan untuk konsumsi publik.
Bedah Pemanfaatan AI dalam Produksi Jurnalistik
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan materi inti workshop yang menghadirkan Dina Apriana sebagai pemateri.
Dalam pemaparannya, Dina mengulas dasar-dasar kecerdasan buatan serta urgensi transformasi ruang redaksi dalam menghadapi perubahan lanskap industri media.
Ia menjelaskan bagaimana teknologi AI bekerja dan bagaimana penerapannya dapat diintegrasikan ke dalam proses jurnalistik modern, mulai dari riset, pengolahan informasi, hingga produksi berita.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mendorong media massa untuk beradaptasi dengan pola distribusi informasi yang semakin cepat. Namun, kecepatan tersebut harus tetap diimbangi dengan penguatan fungsi editorial, verifikasi fakta, dan kurasi informasi.
Hal ini penting agar media tetap mampu menghasilkan karya jurnalistik yang akurat, kredibel, dan berkualitas di tengah derasnya arus informasi yang diproduksi secara otomatis.
Tidak hanya berisi pemaparan teori, workshop juga dikemas secara interaktif melalui simulasi penggunaan berbagai aplikasi AI untuk mendukung kebutuhan riset dan produksi berita.
Para peserta mendapatkan pendampingan dalam menyusun _prompt_ atau instruksi yang tepat agar AI mampu menghasilkan informasi yang relevan, objektif, dan memiliki kedalaman perspektif.
Melalui praktik tersebut, peserta diharapkan tidak hanya mengenal berbagai perangkat AI, tetapi juga mampu menggunakannya secara kritis sesuai kebutuhan dan prinsip-prinsip jurnalistik.
Membangun Jurnalisme Adaptif dan Beretika
Kolaborasi Alunjiva Indonesia, Kedutaan Besar Inggris, dan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang ini menjadi salah satu upaya memperkuat kapasitas insan media dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.
Program AI for Journalism diharapkan mampu mendorong lahirnya jurnalis yang adaptif, inovatif, dan memiliki kecakapan digital tanpa kehilangan integritas profesional.
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, teknologi memang dapat mempercepat pekerjaan jurnalistik. Namun, akurasi, kreativitas, tanggung jawab, dan keputusan editorial tetap membutuhkan kendali manusia.
Dengan demikian, AI bukan untuk menggantikan jurnalis, melainkan menjadi mitra kerja yang memperkuat kualitas jurnalisme sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap media.






