RakyatRepublika – Penyelidikan Kongres Amerika Serikat terkait mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein memasuki babak baru setelah mantan asistennya, Sarah Kellen, menuding tiga pria melakukan pelecehan seksual dalam kesaksian tertutup di Capitol Hill pekan ini.
Ketua Komite Pengawasan DPR AS, James Comer, mengatakan Kellen menyebut nama tiga pria tersebut dalam wawancara bersama komite pada Kamis waktu setempat.
Sumber media di Amerika seperti CNN, menyebut ketiga nama itu adalah penata rambut selebriti asal Prancis Frederic Fekkai, mantan wali kota Miami Beach Philip Levine, serta fotografer mode asal Prancis Patrick Demarchelier.
Patrick Demarchelier dikenal sebagai salah satu fotografer fashion paling berpengaruh di dunia yang memiliki hubungan dekat dengan Diana Spencer atau Lady Diana. Lahir di Prancis pada 1943, Demarchelier membangun reputasi internasional lewat gaya fotografi elegan, natural, dan glamor yang banyak menghiasi majalah mode ternama seperti Vogue dan Harper’s Bazaar.
Namanya melejit setelah menjadi fotografer pribadi pilihan Putri Diana pada akhir 1980-an, menjadikannya fotografer non-Inggris pertama yang dipercaya keluarga kerajaan Inggris untuk memotret sang putri. Foto-foto karyanya membantu membentuk citra Diana sebagai ikon kemanusiaan sekaligus simbol fashion global. Selain memotret tokoh kerajaan, Demarchelier juga bekerja dengan banyak selebritas dunia, supermodel, dan rumah mode mewah hingga wafat pada 2022.
Menurut sumber yang mengetahui isi kesaksian tersebut, Kellen menuduh Fekkai dan Levine melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. Ia juga mengklaim Demarchelier pernah memperlihatkan alat kelaminnya kepadanya. Salah satu sumber menyebut Kellen mengatakan Fekkai menyerangnya pada awal 2000-an saat keduanya berada di kamar hotel di Hawaii dalam perjalanan menemui agen model.
Pihak Fekkai membantah seluruh tuduhan tersebut. Perwakilan medianya, Mark Herr, menyatakan Fekkai tidak pernah melakukan tindakan ilegal maupun mengetahui aktivitas perdagangan manusia yang dilakukan Epstein.
“Tuan Fekkai tidak pernah menyalahgunakan siapa pun. Dia tidak mengetahui kebejatan maupun perdagangan manusia Epstein,” kata Herr dalam pernyataannya.
Sementara itu, Levine sebelumnya menyatakan kepada media lokal WLRN bahwa dirinya hanya bertemu Epstein beberapa kali dan menyesali hubungan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah melakukan bisnis dengan Epstein, tidak pernah mengunjungi pulau pribadi Epstein, maupun menaiki pesawat pribadi miliarder tersebut.
Kellen juga bersaksi bahwa Demarchelier memperkenalkannya kepada Epstein yang disebut-sebut mencari calon model untuk Victoria’s Secret. Namun hingga kini tidak ada satu pun dari ketiga pria tersebut yang didakwa dalam kasus terkait Epstein.
Dalam kesaksiannya, Kellen menggambarkan dirinya sebagai korban manipulasi dan pelecehan Epstein selama bertahun-tahun. Ia mengaku mengalami tekanan psikologis hingga kehilangan kemampuan membedakan pikirannya sendiri.
“Ia merayu saya, menyiksa saya secara seksual dan psikologis, mengendalikan, memanipulasi, dan mendominasi saya,” kata Kellen dalam pernyataan pembukanya kepada anggota parlemen.
Kellen merupakan figur kontroversial dalam lingkaran Epstein. Pada 2007, aparat penegak hukum sempat menyebutnya sebagai kemungkinan kaki tangan Epstein. Namun ia membantah tuduhan tersebut dan menyatakan dirinya justru menjadi korban eksploitasi sang miliarder.
Dokumen Epstein yang dirilis Departemen Kehakiman juga menunjukkan adanya hubungan lama antara Epstein dengan Levine dan Fekkai. Catatan email dan transaksi memperlihatkan komunikasi intens antara mereka selama bertahun-tahun, termasuk penggunaan apartemen Epstein, hubungan sosial, hingga komunikasi politik.
Comer menyebut kesaksian Kellen menjadi salah satu wawancara paling penting dalam penyelidikan Kongres sejauh ini.
“Ini adalah wawancara paling substantif dan produktif yang pernah kami lakukan,” ujarnya kepada wartawan.
Mengapa Kasus Epstein Terus Membuka Nama Baru?
Meski Jeffrey Epstein telah meninggal sejak 2019, skandal yang mengelilinginya justru terus meluas dan memunculkan nama-nama baru dari kalangan elite politik, bisnis, hiburan, hingga dunia fashion internasional. Setiap kali dokumen pengadilan dibuka, kesaksian baru muncul, atau penyelidikan Kongres berjalan, publik Amerika kembali diguncang oleh figur berpengaruh yang diduga pernah berada dalam lingkaran sosial Epstein.
Fenomena ini terjadi karena jaringan Epstein sejak awal memang dibangun di sekitar kekuasaan, uang, dan akses elite. Epstein bukan sekadar miliarder eksentrik, melainkan figur yang secara sistematis menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh penting dunia. Dari mantan presiden, pengusaha besar, akademisi, fotografer mode, hingga selebritas internasional, banyak nama pernah tercatat dalam buku kontak, penerbangan pribadi, pesta, atau jaringan sosial Epstein.
Namun kemunculan nama dalam dokumen tidak otomatis berarti keterlibatan kriminal. Inilah yang membuat kasus Epstein begitu kompleks sekaligus sensitif. Sebagian nama mungkin hanya memiliki hubungan sosial biasa, sementara sebagian lain kini menghadapi tuduhan lebih serius berdasarkan kesaksian para korban maupun mantan orang dekat Epstein.
Kesaksian mantan asisten Epstein, Sarah Kellen, di Kongres AS menjadi contoh terbaru bagaimana lingkaran Epstein masih menyimpan banyak misteri. Nama-nama baru yang disebut dalam kesaksian tertutup langsung memicu perhatian media karena sebagian berasal dari kalangan elite yang selama ini relatif jauh dari sorotan publik. Situasi ini memperlihatkan bahwa jaringan Epstein kemungkinan jauh lebih luas dibanding yang selama ini diketahui publik.
Faktor lain yang membuat kasus ini terus berkembang adalah banyaknya dokumen yang selama bertahun-tahun disegel pengadilan atau belum sepenuhnya dipublikasikan. Setiap pembukaan dokumen baru berpotensi mengungkap email, catatan perjalanan, komunikasi pribadi, hingga relasi sosial yang sebelumnya tersembunyi.
Selain itu, tekanan publik terhadap transparansi juga semakin besar. Di Amerika, kasus Epstein telah berubah dari sekadar perkara kriminal menjadi simbol dugaan impunitas elite. Banyak warga percaya Epstein tidak mungkin beroperasi sendirian selama puluhan tahun tanpa perlindungan sosial dan kekuasaan dari lingkaran orang berpengaruh di sekitarnya.
Kecurigaan itu semakin diperkuat oleh berbagai teori konspirasi yang muncul setelah kematian Epstein di penjara federal New York. Sebagian publik meragukan narasi resmi bunuh diri dan menduga ada pihak-pihak berkepentingan yang takut rahasia jaringan Epstein terbongkar lebih jauh. Meski tidak pernah terbukti, spekulasi tersebut terus menjaga kasus Epstein tetap hidup dalam perhatian publik.
Di sisi lain, media investigasi dan penyelidikan Kongres turut memainkan peran besar dalam menjaga kasus ini terus bergerak. Setiap kesaksian baru segera menjadi berita nasional karena publik melihat kasus Epstein bukan hanya tentang kejahatan seksual, tetapi juga tentang relasi tersembunyi antara kekuasaan, uang, dan pengaruh global.
Pada akhirnya, kasus Epstein terus membuka nama baru karena jaringan yang dibangunnya memang menyentuh lapisan elite internasional. Selama masih ada dokumen yang belum terbuka, saksi yang belum bicara, dan pertanyaan yang belum terjawab, skandal Epstein tampaknya akan terus menghantui dunia politik dan sosial Amerika selama bertahun-tahun ke depan.
Jejak Operasi Epstein
Jaringan operasi Jeffrey Epstein tidak hanya dibangun melalui relasi sosial dengan kalangan elite, tetapi juga melalui jaringan properti mewah yang tersebar di berbagai lokasi strategis di Amerika Serikat dan luar negeri. Dari Miami hingga Manhattan, rumah-rumah mewah Epstein disebut menjadi bagian penting dalam aktivitas sosial, bisnis, hingga dugaan eksploitasi seksual yang kini terus diselidiki.
Salah satu pusat utama operasi Epstein berada di Manhattan, New York. Mansion mewah miliknya di kawasan Upper East Side dikenal sebagai salah satu rumah pribadi terbesar di kota tersebut. Properti itu kerap disebut dalam berbagai dokumen pengadilan dan kesaksian korban karena diduga menjadi lokasi perekrutan, pertemuan elite, hingga aktivitas pelecehan seksual selama bertahun-tahun.
Selain New York, Epstein juga memiliki kompleks mewah di Palm Beach, Florida, yang menjadi salah satu lokasi awal penyelidikan kasusnya pada pertengahan 2000-an. Rumah tersebut disebut dalam banyak laporan polisi dan dokumen hukum terkait perekrutan gadis di bawah umur. Kasus di Florida bahkan sempat memicu kontroversi nasional setelah Epstein mendapat kesepakatan hukum yang dianggap terlalu ringan pada 2008.
Jejak Epstein juga meluas ke Miami dan kawasan pesisir elite lainnya di Florida. Di wilayah ini, ia membangun koneksi dengan pengusaha kaya, tokoh politik lokal, hingga figur industri hiburan. Hubungan sosial tersebut membuat lingkaran Epstein berkembang jauh melampaui sekadar jaringan pribadi biasa.
Lokasi paling kontroversial dalam jaringan Epstein adalah pulau pribadinya di Kepulauan Virgin AS yang dikenal publik sebagai “Little Saint James”. Pulau itu selama bertahun-tahun menjadi simbol misteri dan teori konspirasi seputar Epstein. Sejumlah korban dan dokumen pengadilan menyebut pulau tersebut sebagai lokasi pesta privat dan dugaan eksploitasi seksual yang melibatkan tamu-tamu berpengaruh.
Selain properti di Amerika, Epstein juga memiliki apartemen mewah di Paris dan rumah besar di London. Properti internasional ini memperlihatkan bagaimana jaringan sosial Epstein bersifat global dan menjangkau kalangan elite lintas negara.
Banyak penyidik meyakini properti-properti tersebut bukan sekadar aset kekayaan, melainkan bagian dari sistem operasi sosial Epstein. Rumah-rumah mewah, pesta privat, akses eksklusif, dan jaringan penerbangan pribadi diduga digunakan untuk membangun kedekatan dengan figur penting sekaligus menciptakan lingkungan tertutup yang sulit disentuh publik.
Dokumen penerbangan pesawat pribadi Epstein yang dikenal sebagai “Lolita Express” juga menjadi perhatian besar. Catatan perjalanan tersebut berisi nama-nama tokoh terkenal yang pernah bepergian bersama Epstein, meski kemunculan nama dalam dokumen tidak otomatis berarti keterlibatan kriminal. Namun bagi publik, daftar itu semakin memperkuat persepsi bahwa Epstein memiliki akses luar biasa ke lingkaran elite global.
Hingga kini, berbagai lokasi yang terkait Epstein masih terus ditelusuri penyidik, media investigasi, dan anggota Kongres AS. Setiap properti, catatan tamu, email, hingga dokumen perjalanan berpotensi membuka hubungan baru yang sebelumnya tersembunyi.
Kasus Epstein akhirnya menunjukkan bahwa kekuasaan modern tidak hanya bergerak lewat politik formal, tetapi juga melalui ruang-ruang privat kaum elite: mansion tertutup, pesta eksklusif, jet pribadi, dan jaringan sosial yang sulit dijangkau publik biasa. Dari Miami hingga Manhattan, jejak Epstein menjadi simbol bagaimana uang, pengaruh, dan kerahasiaan dapat membangun jaringan yang bertahan selama bertahun-tahun tanpa mudah tersentuh hukum. (*)






