Wacana Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Dirubah menjadi “Bahasa dan Sastra Indonesia”: Bagus! Bahasa Tanpa Sastra Dinilai Kehilangan Ruh

Wacana Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Dirubah menjadi “Bahasa dan Sastra Indonesia”: Bagus! Bahasa Tanpa Sastra Dinilai Kehilangan Ruh
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Palembang yang membidangi pendidikan dan kesehatan,H.MGS. Syaiful Fadli,ST.,MM.,

PALEMBANG, RakyatRepublika — Wacana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengganti nama mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi “Bahasa dan Sastra Indonesia” memantik perhatian luas, termasuk dari DPRD Kota Palembang.Di tingkat daerah, isu ini turut menjadi sorotan Komisi IV DPRD Kota Palembang yang membidangi pendidikan dan kesehatan.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Palembang yang membidangi pendidikan dan kesehatan,H.MGS. Syaiful Fadli,ST.,MM.,menegaskan menegaskan bahwa perubahan nomenklatur tersebut tidak dapat dipandang sebagai sekadar pergantian istilah. Menurutnya, langkah ini merupakan kebijakan strategis yang berpeluang menjadi titik balik bagi kebangkitan sastra di lingkungan sekolah,setelah sekian lama aspek kesastraan tenggelam di bawah dominasi materi kebahasaan yang bersifat teknis.

Bacaan Lainnya

“Kami memandang kebijakan ini sebagai upaya positif untuk mengembalikan keseimbangan antara bahasa dan sastra dalam kurikulum.Siswa tidak hanya perlu mahir secara gramatikal,tetapi juga memiliki kepekaan estetika,imajinasi,dan kemampuan mengapresiasi karya sastra,”ujar Syaiful, Selasa (6/1/2026).

Ia menilai,penguatan muatan sastra dapat mendorong kreativitas siswa sekaligus memperkaya kemampuan literasi kritis.Sastra, kata dia,adalah jembatan yang mampu membangun empati, menumbuhkan karakter,serta mengasah kemampuan berpikir reflektif kompetensi yang sangat penting bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi.

Lebih lanjut,Syaiful menyebut bahwa kebijakan ini juga membuka ruang bagi kebangkitan ekosistem sastra di sekolah.Kegiatan seperti baca puisi,teater,resensi buku,hingga penulisan kreatif dapat kembali diberi ruang yang layak dalam proses pembelajaran.Sejalan dengan itu,kompetensi guru juga perlu ditingkatkan agar pengajaran sastra tidak lagi menjadi pelengkap, tetapi berdiri sejajar dengan materi kebahasaan lainnya.

BACA JUGA  Sekolah di Sumsel Ditargetkan Laksanakan UNBK Pada Tahun 2018

Meski demikian,ia mengingatkan bahwa perubahan nama mata pelajaran harus diikuti oleh kesiapan yang matang.“Perubahan ini perlu dibarengi dengan pembaruan kurikulum yang jelas, pelatihan guru, serta penyediaan buku dan bahan ajar sastra yang relevan,apabila kebijakan ini dilaksanakan secara terencana dan komprehensif,maka perubahan tersebut dapat menjadi fondasi lahirnya generasi yang tidak hanya cakap berbahasa,tetapi juga kaya imajinasi,berkarakter kuat,dan memiliki penghargaan tinggi terhadap budaya literasi bangsa,”tegasnya

Syaiful berharap perubahan nama mata pelajaran dari Bahasa Indonesia menjadi Bahasa dan Sastra Indonesia juga dapat mengakomodasi kearifan dan muatan lokal (mulok).Ia menilai, banyak sastra lokal seperti pantun dan gurindam yang perlahan ditinggalkan generasi muda. Wacana perubahan ini,menurutnya, adalah momentum penting untuk mengembalikan marwah kekayaan sastra daerah,khususnya di Kota Palembang.

“Palembang memiliki warisan mulok yang sangat kaya,termasuk pembelajaran berbahasa asli Palembang.Perubahan ini bisa menjadi pintu untuk menggali kembali kekayaan tersebut dan menghadirkan lebih banyak muatan lokal dalam pembelajaran,”ujarnya.

Sambung Syaiful,keberhasilan perubahan ini tidak hanya bergantung pada konsep, tetapi juga dukungan pemerintah yang konkret.

“Suport pemerintah sangat dibutuhkan, bukan hanya pada aspek infrastruktur, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia, fasilitas pendukung, dan bentuk apresiasi yang diberikan kepada para guru. Semua ini menjadi modal penting dalam menyongsong perubahan menuju Bahasa dan Sastra Indonesia,”katanya

BACA JUGA  Penerimaan CPNS Bakal Dapat Mengurangi Kekurangan Tenaga Pengajar

Sementara itu,salah satu guru Bahasa Indonesia di Palembang, Rinata Putri,mengaku menyambut baik wacana Kemendikdasmen untuk mengubah nama mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi “Bahasa dan Sastra Indonesia”.Menurutnya,perubahan ini bukan sekadar pergantian label, tetapi dapat menjadi “napas baru” bagi dunia pembelajaran sastra di sekolah.

“Selama bertahun-tahun, sastra seperti berjalan di lorong sempit. Siswa lebih sering dijejali aturan kebahasaan,rumus,dan struktur, sementara ruang berimajinasi dan berekspresi malah makin menyusut,”ujar Rinata.

Ia melihat,bila wacana ini diterapkan dengan serius,sastra akan kembali pada tempatnya sebagai salah satu pilar pembentuk karakter.Menurutnya,karya sastra memiliki kekuatan yang tidak dimiliki materi teknis bahasa yakni menyentuh emosi dan membuka pintu empati.

“Melalui cerpen,puisi,atau novel, anak-anak belajar merasakan hidup dari sudut pandang orang lain. Mereka belajar menjadi manusia yang utuh.Itu bagian dari pendidikan yang tak pernah bisa digantikan,” tuturnya.

Rinata juga menilai bahwa perubahan nama ini dapat menjadi pemicu inovasi pengajaran di kelas.Guru bisa lebih bebas menghadirkan kegiatan kreatif seperti mendongeng,pementasan teater mini,klub baca,hingga proyek menulis antologi siswa.Menurutnya, inilah saat yang tepat bagi sekolah kembali membangun ekosistem literasi yang hidup.

Rinata berharap,jika perubahan ini dipersiapkan matang,maka sekolah akan melahirkan generasi yang bukan hanya cakap berbahasa, tetapi juga kaya imajinasi dan kepekaan rasa.Sastra bukan pelengkap.Ia adalah ruang untuk membentuk manusia yang peka dan berkarakter,”pungkasnya.(Ken)

 

 

Pos terkait